Seekor kerbau dengan tanduk melengkung berdiri di padang rumput hijau dengan pepohonan di latar belakang

Penyakit Jembrana merupakan salah satu penyakit infeksius yang menyerang sapi bali (Bos javanicus). Penyakit ini disebabkan oleh virus dari famili Retroviridae dan pertama kali dilaporkan di Kabupaten Jembrana, Bali, pada tahun 1964. Hingga kini, sapi bali tetap menjadi jenis sapi yang paling rentan terhadap penyakit ini.

Gejala Klinis

Penyakit Jembrana memiliki masa inkubasi yang relatif singkat, berkisar antara 4 hingga 12 hari setelah infeksi. Gejala yang umum terlihat pada sapi yang terinfeksi meliputi:

  • Demam tinggi mendadak (suhu tubuh mencapai 40–42°C)
  • Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati)
  • Leleran dari hidung dan mulut
  • Diare yang kadang disertai darah
  • Penurunan nafsu makan secara drastis
  • Lesi pada mukosa mulut

Dampak pada Peternakan

Penyakit ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat, terutama pada sapi bali dewasa. Tingkat kematian (mortalitas) bisa mencapai 20% pada kasus wabah. Sapi yang selamat biasanya memerlukan waktu pemulihan yang cukup lama dan mengalami penurunan produktivitas.

Deteksi Dini dan Pencegahan

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit Jembrana di suatu wilayah peternakan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan peternak antara lain:

  • Memantau suhu tubuh sapi secara rutin, terutama pada musim pancaroba
  • Mengisolasi sapi yang menunjukkan gejala klinis mencurigakan
  • Melaporkan kasus mencurigakan kepada petugas kesehatan hewan setempat
  • Menjaga kebersihan kandang dan peralatan peternakan
  • Menerapkan biosekuriti yang ketat di area peternakan

Vaksinasi telah dikembangkan sebagai salah satu upaya pengendalian penyakit Jembrana. Namun, ketersediaan vaksin di lapangan masih terbatas, sehingga pencegahan melalui manajemen peternakan yang baik tetap menjadi andalan utama.

Penutup

Penyakit Jembrana merupakan ancaman serius bagi peternakan sapi bali di Indonesia. Kewaspadaan peternak dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam menekan dampak kerugian akibat penyakit ini. Konsultasikan dengan dokter hewan atau petugas penyuluh lapangan jika menemukan gejala yang mencurigakan pada ternak Anda.